Jumat, 30 November 2012

Hari Pertamaku, Oh Jilbabku

Oleh : Handayani Tuk..tuk..tuk…Bunyi itu sengaja aku mainkan untuk mengurangi desir-desir hati memasuki esok hari. Malam ini aku sangat berdebar-debar memikirkan apa komentar teman-temanku besok? Entahlah. Tak ingin ambil pusing sebenarnya, tetapi hal itu sudah otomatis mengusik pikiranku. Jilbabku. Kira-kira mereka komentar apa ya soal jilbab baruku? Teman-teman perempuanku kan belum berjilbab. Paling cuma Zumi dan Vita. Tidak tahu kenapa sekolah menengah atas milik yayasan Islam, besar pula tidak mewajibkan murid-muridnya muslimah mengenakan jilbab. Padahal jilbab itu wajib. Entahlah. Tuk..tuk..tuk…bunyi pulpen itu masih aku mainkan sembari melanjutkan perjalanan berpikirku. Hmmm mungkin ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan. Seperti pertimbangan aurat bisa saja ditutup tapi hati dan perbuatan masih tidak karuan. Khawatir bisa mencoreng wajah sekolah dan Islam. Tapi kalau nunggu hidayah yang kalau tidak kita cari ya tidak bakal ketemu. Masih dalam pikirku. Ketika kita sudah memutuskan untuk menutup aurat ya standar minimal kita harus menjaga aurat. Ketika aurat terjaga maka harapannya jilbab bisa mengontrol perbuatan yang akan kita lakukan. Haaaaahhh…tau ah tak mau ambil pusing. Kenapa demikian. Hal yang paling menyebalkan esok hari adalah komentar Guntur, Guruh, dan Aryo. Aku harus menyiapkan diri dan hati. Terserah mereka mau bilang apa. Mereka paling usil dan cerewet denganku. Hal yang paling penting, sekarang mereka tak kan lagi bisa mengganggu rambutku kalau ulang tahun. Sudah dikasih tepung, dilempar telur, dioles sampho, dilempar air. Itu kejam, sayang atau keterlaluan. Padahal aku tak membawa baju ganti dan sisir waktu itu. Sebelum pulang sekolah aku menangis di kamar mandi karena malu gara-gara itu. Sembari membersihkan rambut, aku sesegukan. Bayangkan aku pulang dalam keadaan baju basah dan rambut masih banyak menyisakan tepung. Temanku-temanku tega nian dirimu padaku. Berbeda dengan teman-teman dekatku Siti, Rida, Eva dan Puput pasti surprise melihatku. Sengaja aku tidak memberitahu mereka. Tidak surprise namanya kalau sudah diberitahu. Kalau si Ahmad pasti senanglah dan tambah naksir padaku karena dia fans beratku sejak kelas satu. Tapi syukur aku tak pernah menyambut siapa pun untuk berpacaran denganku. Kata ibu sekolah itu arena belajar, bukan arena pacaran. Dan aku menyepakati itu. Toh itu untuk kebaikanku. Sudahlah. Memikirkan apa reaksi mereka tidaklah menyurutkan langkahku. Yang lalu biarlah berlalu. Hari esok adalah masa depanku. Kan kusambut hari esok dengan bismillah semoga Engkau beri aku kelapangan dan kemudahan. Pagi menjelang. Aku sengaja berangkat jauh lebih pagi agar teman-teman lain kelas tak terlalu terkejut melihat perubahan penampilanku. Terlebih teman sekelasku. Aku langsung duduk di bangku tanpa bergerak sedikit pun dan pura-pura menulis sesuatu di buku. Hmmm..berhasil. Mereka seperti tak menyadari kalau aku sekarang menutup auratku. Tersenyum asyik Galuh belum menyadari hal itu. Tapi tak berapa lama kemudian. “Haaaa….Zahra pakai jilbab…!”teriak Zumi salah satu dari teman sekelasku yang memakai jilbab. Teriakannya histeris memecahkan suasana santai di kelas. “Alhamdulillah…” lanjutnya. Semua teman sekelas lalu berburu memandangiku. Tak terkecuali Galuh yang tadi sempat terkecoh dengan penampilanku. Lalu berhamburanlah mereka mendekat. Mereka memberi selamat atas perubahan penampilanku. “Selamat ya…selamat ya…mimpi apa kamu semalam…sudah tobat ya…” berondong Galuh. Aku hanya senyum-senyum mendengar komentar teman-temanku. Kurang lima menit bel berdering tanda masuk kelas. Satu per satu temanku mulai berdatangan. Sama seperti lainnya. Mereka heboh melihat perubahan penampilanku. Lagi-lagi aku hanya senyum-senyum sendiri. Sehari jadi artis jilbab sembari tertawa dalam hati. Teeeeetttt….bel berbunyi. Hari pertama masuk langsung pelajaran. Dari jauh aku sudah mendengar detak sepatu Bu Erni guru Fisikaku. Pusing aku mendengar detak sepatunya. Karena Fisika berhasil membuat satu uban di kepalaku. Tapi pelajaran itu tetap saja dimulai tanpa peduli tumbuh uban di kepala siapa pun. Tak hanya aku. “Zahra…ada apa kok kamu dari tadi pegang kepala terus,” Tanya Bu Erni yang ternyata sedari tadi memperhatikanku. “Hmmm anu Bu…” jawabku grogi dan berkeringat. “Jilbabnya baru Bu..” sahut Galuh memotong jawabanku. “Oh iya…ada yang berubah ya… selamat ya…dirapikan tuch jilbabnya..tampak miring…” lanjut Bu Erni. “Ehh…iya Bu..terima kasih,” jawabku gugup dan malu. Ya dari tadi aku memang dikit-dikit merapikan jilbab. Maklum jilbab yang aku pakai jilbab kotak yang kalau memakainya pakai peniti. Padahal aku belum pernah pakai jilbab model begini. Ya baru kali ini. Jilbab baruku yang langsung pakai, sementara tidak aku kenakan ke sekolah. Karena tampak tak resmi. Jadi terpaksa aku harus memakai jilbab kotak. Ya biarlah. Konsekuensi memakai jilbab. Grogi, keringetan, capek. Pasalnya ya harus bolak balik benerin jilbab. Jadi begini raasanya pakai jilbab. Bahagia. Senang. Lucu. Rasakan sendiri dech sensasinya. [] Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/14792/jilbabku-kehormatanku-bagian-ke-3/#ixzz2Di1jd3hy

Sabtu, 10 September 2011

murpy



Jamur Tiram crispy atau Murpy.Camilan yang enak ini membutuhkan jamur tiram putih yang segar.Jamur Tiram Putih berguna sebagai pencegah hipertensi, mencegah kanker dan mengandung lovastatin (penurun kolesterol). Tidak seperti jamur tiram crispy yang dijual francaise, Murpy ini lebih kering. Pernah makan oleh-oleh khas Wonosobo jamur kancing yang digereng garing? Nahhh..Murpy sama keringnya dengan itu. Tahan maksimal 1 bulan.Berbeda dengan jamur crispy francaise yang tahan hanya beberapa jam saja.
Penasaran..coba aja..!!!

Murpy

Minggu, 12 Juni 2011

Jilbabku, Kehormatanku

oleh : Handayani

Part II

Cihuy Aku Dapat Hadiah



Ramadhan oh Ramadhan. Bulan yang selalu kunantikan. Bulan penuh keberkahan. Bulan penuh ampunan. Bulan penuh kemuliaan. Siapa yang tak ingin mendapatkannya? Semua orang beriman pasti menginginkannya. Termasuk aku. Karena aku puasa berarti aku orang beriman yang diseru untuk menjalankan puasa Ramadhan.


“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Siapa yang tidak tahu ayat itu? Tentu semua sudah tahu. Bahkan hafal alias nglothok. Hatiku berdesir. Ramadhan kali ini Allah akan kasih hadiah apa ya padaku? Tanyaku dalam hati sambil berangan-angan mendapat hadiah istimewa dari-Nya.

“Ya Rabb…beri aku hadiah terbaik dari-Mu di bulan Ramadhan ini, aamiin,” doaku lirih penuh pengharapan.

***

“Sahur….sahur…Nduk sahur….” Terdengar suara lembut ibu membangunkanku.

“Nggih bu..jam berapa tho Bu..? Tanyaku sambil merem melek setengah sadar.

“Jam tiga Nduk. Ayo bangun sekarang…semua sudah bangun itu lho…,” kejar Ibu membangunkanku.

“Nggih nggih Bu…bangun…!”



Malam pertama sahur. Sangat kunikmati. Suasana religiusnya menyenangkan hati. Riuh nada kentongan membangunkan orang tidur agar segera sahur, terdengar merdu. Sesekali bergantian dengan tilawatil qur’an di masjid yang berjarak 100 meter saja dari rumahku. Yach terdengar indah merasuk kalbu. Menggetarkan seluruh syarafku. Belum suasana kebersamaan saat makan sahur. Subhanallah. Nikmat yang begitu indah. Rasa yang paling indah bagi orang yang menyadarinya bahwa itu sebuah nikmat yang begitu indah.


Alhamdulillah kenyang. Tidak khawatir akan lemas nanti siang. Makhlum anak usia remaja makannya selalu banyak. Tidak laki-laki tidak perempuan sama saja menurutku. Banyak makannya. Karena tubuh mereka lebih banyak membutuhkan nutrisi agar bersemangat menghadapi hari terutama di bulan puasa.

Selepas sahur, entah kenapa terbesit keinginanku menyetel radio. Yach banyak kuis di sana. Tak hanya radio, televisi pun juga menanyangkan program-program kuis berhadiah. Apalagi di bulan Ramadhan. Subhanallah. Banyak berkah banyak hadiah. Makanya takkan kubiarkan kesempatan ini.


“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabar pendengar setia Gajahmada? Sudah sahur semua. Tentunya sudah dong. Yang belum sahur ayo segera sahur. Sahur sahur..Sebentar lagi subuh ayo sahur….sahur…” riuh mbak Vina, penyiar sebelum ia buka kuisnya.

“Saatnya kuissssss berhadiah…asyiiikkk…ayo siap-siap siapa yang mau gabung…dengerin ya…” lanjutnya.

“Punya pengalaman unik menarik seputar mie Gaga dan kreasinya…waahhh tentu banyak dong cerita nya…ayo bagi-bagi pengalamannya…cerita yang paling menarik dengan kreasi masakan yang unik akan mendapat hadiahpaket mie gaga dan uang lima puluh ribu rupiah…weee menarik kan.. ditunggu sepuluh penelpon pertama…”

Aku tertarik. Asyik. Itu kan mudah banget buatku. Semoga aku bisa menang. Lumayan kalau menang aku bisa beli seragam putih satu dan jilbab satu. Jadi kalau liburan puasa selesai lalu masuk sekolah aku sudah bisa memakai jilbab. Ya Allah berikanlah aku hadiah terbaik di Ramadhan-Mu.

“Hallo…Gaga kuis…” ucapku lewat udara.

“Gaga kuiss..dengan siapa ini?”

“dengan Zahra.”

“Silakan cerita dan kreasinya.”

“Jadi setiap malam bulan Muharram kami sekeluarga biasa melek-melek. Selalu ada makanan dan minuman yang menemani. Saat itu kami butuh makanan ringan yang mengenyangkan. Tapi karena sudah larut malam tidak ada warung yang buka untuk beli makanan. Terlalu jauh kalau harus sampai jalan raya. Di sana banyak penjual gorengan dan lainnya. Namun teringat di lemari ada mie Gaga. Segera aku rebus mienya. Setelah matang aku buang airnya lalu kutambahkan bumbu instan yang ada di dalam mie. Kucampur dengan telur. Kemudian mie digoreng setiap satu sendok sayur. Tak perlu ditambah bumbu lainnya. Karena bumbu instannya saja sudah enak. Tra laaa… mie sarang burung sudah jadi. Hmmm enak…” begitulah ceritaku.

“Wah seru banget…terima kasih Zahra,” tutup mbak Vina.

“Ayo ditunggu penelpon selanjutnya.”

Hatiku lega. Akhirnya telpon dariku bisa masuk juga. Tinggal menunggu. Telingaku tak mau berhenti mendengarkan serunya kuis kali ini. Dari cerita yang aku dengar, sepertinya ceritakulah yang paling seru dan unik kreasinya. Semoga saja aku menang. Ya Allah berikanlah hadiah terbaik di Ramadhan-Mu.

“saatnya pengumuman siapa yang ceritanya paling menarik dengan kreasi masakan yang unik. Dari sepuluh penelpon hampir semua masakannya hanya di rebus atau dijadikan mie goreng saja. Tapi eits tunggu dulu ternyata ada satu penelpon yang dibuat apa tadi namanya…ya… mie sarang burung…hayoo. Siapa tadi yang menelpon… Yup mbak Zahra yang berhak mendapatkan hadiah paket mie Gaga dan uang lima puluh ribu rupiah. Silakan mbak Zahro menelpon kembali untuk informasi pengambilan hadiah. Selamat yach….” Pungkas mb Vina.


Alhamdulillah Ya Allah. Terima kasih Kau telah beri aku hadiah terbaik dan terindah di Ramadhan-Mu. Aku sontak kegirangan. Ibuku, bapakku, kedua kakaku dan adik-adikku semuanya senang. Tidak biasanya ikut kuis bisa menang. Sekali lagi alhamdulillah Ya Allah.


Keesokan harinya aku dengan ibu pergi mengambil hadiah. Masih melekat kebahagiaan itu di hatiku. Setelah selesai aku segera membelanjakannya untuk membeli seragam putih panjang baru dengan harga dua puluh satu ribu dan jilbab baru hanya lima belas ribu. Alhamdulillah paling tidak aku ke sekolah bisa memakai jilbab. Meski baru satu jilbabku tapi aku tidak peduli. Allah pasti menunjukkan jalan-Nya untukku. Sudah terbukti. []yanie

Jilbabku, Kehormatanku

oleh Handayani Budiman pada 05 Juni 2011 jam 17:00

Part I

Alhamdulillah, Hidayah itu Datang Padaku

“Astaghfirullah…astagfirullah..! Tidak..tidak…! Muslimah berjilbab tidak sepantasnya berbuat seperti itu. Astaghfirullah…astaghfirullah..,” ucapku lirih pasca melihat hal yang tak seharusnya kulihat. Segera kuberanjak, berlari dari kelas tersebut.



Tersadar. Tersadar bila ingat peristiwa itu. Aku tersadar kalau aku sebenarnya jauh dari Tuhanku. Buktinya aku telah melupakan perintah Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang terhadap hamba-Nya. Aku lupa perintah berjilbab wajib untuk muslimah. Entah lupa atau belum tersadar atau pingsan atau sengaja mengingkari perintah tersebut, kini aku menyesal.Kenapa dia yang harus berjilbab, tetapi tak mampu menjaganya.



Mengusik. Peristiwa itu sangat mengusik. Aku bertekad ingin menjadi muslimah yang taat akan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya termasuk menjauhi akhlaq yang tidak baik. Aku tak ingin jilbabku mencoreng wajah muslimah lainnya seperti halnya saat peristiwa itu. Aku melihat seorang teman yang berjilbab sedang berpacaran dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh di kelas ketika jam istirahat. Astaghfirullah. Istighfar terus menerus terangkai dalam hati dan lisanku mengingat kejadian itu. Na’udzubillahmindzalik.



Suatu malam aku hendak meneguhkan hatiku. Hati yang selalu menggebu untuk menutup auratku. Ku beranikan diri menyatakan keinginanku berjilbab kepada ibu tercintaku.

“Bu..Zahra minta ijin untuk berjilbab. Boleh?, Tanya Zahra sambil merajuk manja pada ibunya.

“Berjilbab? Serius?” Tanya ibu sembari mengeryitkan dahinya.

“Iya. Serius,” jawabku penuh keyakinan 100%.

“Tapi ibu ndak punya uang untuk mbeliin kamu seragam baru, jilbab baru, baju panjang baru Nduk. Trus gimana kamu mau berjilbab?”, Tanya ibu.

“Kalau ibu sudah mengijinkan, insya Allah ada jalan keluar. Kakaknya Septi yang berjilbab itu kan sudah lulus Bu. Nanti Zahra mau minta seragam bekasnya. Lagian kakaknya Septi kan tinggi Bu kayak aku. Trus Septinya kecil jadi kemungkinan bajunya tidak dipakai Septi.” Jawabku.

“Ya sudah. Alhamdulillah ibu senang. Ibu doakan semoga niat baikmu mendapat kemudahan Gusti Allah.”

“Aamiin..”



Syukur alhamdulillah. Aku menghela nafas lega. Segera ku susun jadwal silaturahim ke rumah Septi, sahabat karib SMP yang sejak saat itu ia satu-satunya siswa yang berjilbab di sekolah. Subhanallah. Walhamdulillah. Aku jadi malu sendiri. Kesadaran berjilbab baru aku dapatkan ketika kelas dua SMA. Tapi tak apalah, lagi lagi syukur alhamdulillah dapat hidayah berjilbab.



Kini aku lebih sering membaca buku tentang jilbab, kisah-kisah inspiratif tentang jilbab sampai siapa saja yang boleh melihat kita ketika tidak memakai jilbab. Aku tak ingin berjilbab hanya mengikuti tren, atau ikut-ikutan. Bila niatnya demikian pasti tak akan bertahan lama. Niatku berjilbab karena ingin memenuhi kewajibannku sebagai seorang muslimah. Semua harus berdasarkan ilmu dan kepahaman akan berjilbab.



Keesokan harinya.

“Assalamu’alaikum…”, salam dariku sembari mengetuk rumah Septi.

“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh..Eehh Zahra..masuk yuk…” jawab Septi.

“Hey..aku punya kabar gembira lho…!

“Apa itu Ra?”

“Aku mau pake jilbab..” jawabku sembari tersenyum leba. Senyum paling manis. Kalau bisa dicicipi, senyumku lebih manis dari madu. Itu tandanya aku sangat berbahagia.

“Alhamdulillah akhirnya sahabatku ini berjilbab juga. Bisa bantu apa nih..” tawar septi.

“Tahu banget aku butuh bantuan..he..he..Iya nich, aku butuh seragam bekas mbak Fika yang baru lulus kemarin. Kamu pake nggak?”

“Boleh banget…aku kan udah punya seragam sendiri jadi seragam mbak Fika buat kamu aja..”

“Alhamdulillah…akhirnya…”



Aku senang sekali. Kembali aku bersyukur. Alhamdulillah satu masalah sudah ada jalan keluarnya. Kini aku sudah mendapat dua rok panjang, meski yang satu tampak cingkrang kalau dipakai. Tapi aku merasa sangat bersyukur telah mendapatkannya. Untuk seragam atasan lengan panjang sepertinya di lemari ada. Baju putih kakak yang tak lagi berwarna putih cerah kurasa masih bisa dan layak dipakai. Paling tidak itu menurut kacamataku.

“Yaa Rabb..alhamdulillah Kau tunjukkan jalan-Mu. Bantulah aku menyusuri indahnya perjalanan memenuhi perinta-Mu, menggapai ridho-Mu.”[]yanie=zahro

Minggu, 13 Februari 2011

Keelokkan dan Mitos Burung Kuntul dan Blekok

Oleh : Handayani

Siapa yang tahu burung Kuntul? Burung yang sewaktu terbang lehernya membentuk seperti huruf "s" dan tidak diluruskan. Burung Kuntul adalah sebutan untuk burung dari keluarga Ardeidae. Burung ini berkaki panjang, berleher panjang, dan tersebar di seluruh dunia.

Apakah sama dengan burung Blekok? Kuntul (Bubulcus ibis) dan blekok (Araeola speciosa) adalah dua jenis burung hampir sama tetapi berbeda. Perbedaan yang terlihat dari kedua jenis burung ini adalah burung blekok relatif lebih kecil, bulu punggungnya berwarna hitam dan coklat didadanya. Sedangkan burung kuntul warna bulunya didominasi putih, tubuhnya agak besar dan mempunyai punggung berwarna jingga.



Kuntul dan Blekok adalah dua jenis burung yang keberadaannya mendominasi di Srondol Indah, Banyumanik, Semarang. Burung itu telah mencipta ruang yang indah dan damai. Habitat burung Kuntul dan Blekok yang berkembang biak dan menetap di Srondol menjadi pemandangan tersendiri yang memang dicari. Burung-burung tersebut telah membangun habitatnya tanpa ada rekayasa dari tangan-tangan manusia, sehingga terlihat begitu alami dan menambah kekaguman pada Sang Maha Pencipta. Terlebih, habitat sebenarnya burung Kuntul dan Blekok di sawah, rawa, daerah berair,tambak dan mangrove. Sedangkan di Srondol Indah adalah sebuah tempat yang ramai lalu lintas tetapi mereka tetap nyaman tinggal di sana.

Setiap subuh baik sendirian atau dalam kelompok tersebar burung-burung ini terbang mencari sarapan. Mereka terbang ke arah laut karena makanan mereka adalah ikan laut. Sekitar jam delapan pagi burung Kuntul dan Blekok kembali ke habitatnya.

Pada pertengahan 80-an sampai pertengahan 90-an, populasinya sekitar 2.000. Berdiam di pohon-pohon depan markas BR dari ujung gang Jl Kyai Mojo sampai depan puskesmas Srondol. Berdiam di sekitar 25 pohon. Saat ini tinggal sekitar 100 ekor dan berdiam di 4 pohon saja. Diperkirakan sebagian besar bermigrasi di sekitar pantai demak yang hutan bakaunya sudah mulai baik. Mereka pindah ke tempat yang lebih dekat dengan tempat mencari makan.

Mitos

Menurut Adi, Prajurit Kepala Asrama Yohanes 400 Raeders mengatakan bila ada burung mati dan jatuh dari pohon menandakan ada seorang personil yang bertugas di daerah telah meninggal dunia. Tidak hanya sekali dua kali kejadian tersebut terjadi beberapa kali dan memang terjadi .

Tak hanya itu, bila Anda menjadi korban timpaan kotoran burung Kuntul dan Blekok maka tidak berapa lama lagi akan berjodoh dengan parjurit asrama Yohanes 400 Raeders. Namun tidak semua korban timpaan kotoran burung Kuntul dan Blekok mengalami hal demikian.

“Saya pernah tertimpa kotoran burung Kuntul dan Blekok. Sudah lama kejadiannya, tetapi sampai sekarang juga belum menikah.,“ tutur Handa, korban timpaan kotoran burung Kuntul dan Blekok ketika perjalanan pulang dari Ungaran.

Berbeda dengan salah seorang prajurit yang tak mau disebut namanya, mengaku bahwa istrinya dulu pernah kejatuhan kotoran burung Kuntul dan Blekok. Tak lama kejadian itu mereka menikah.

Bagi orang yang percaya itu menjadi pertanda bukan hanya kebetulan. Sedangkan bagi orang yang tidak percaya akan hal-hal yang sudah menjadi hak Tuhan maka ia akan menganggap itu hanya sebuah mitos yang berujung pada kesyirikan.[]yn

Penantian Panjang

oleh Handayani Budiman pada 03 Februari 2011 jam 0:46

Tersungkur dalam sujud yang panjang. Perlahan tapi pasti, airmata Zahra meluncur deras. Sesegukan dia dalam doanya. Sejenak ia kembali menelusuri perjalanan panjang yang telah ditempuhnya selama hidup hingga sekarang. namun tiba-tiba airmata itu mengalir lagi dengan deras. lebih deras dari yang pertama. ia semakin sesegukan. hatinya terasa sangat rapuh. Sedih. Sepertinya sangat tersiksa. Entah dia tersiksa karena apa.

Perlahan ia menyeka banjir di pipi dan ingus yang turut memeriahkan kesedihan.Ia tengadahkan tangan sambil berdoa :

Ya Rabb...ampunilah aku..ampunilah aku yang telah lalai kepadaMu..ampunilah aku yang tidak sempurna mensyukuri nikmatMu..ampuni aku atas kebodohanku...ampuni aku atas jauhnya hatiku padaMu..ampuni aku bila lisanku tak banyak berdzikir kepadaMu...ampuni aku bila malam-malamku tak sering kulalui bersamaMu...ampuni aku bila niatku tak tulus mencari ridhoMu...ampuni aku atas semuaaa dosa dan khilafku...Ya Rabb ampuni aku...astaghfirullahal a'dzim.. allahumma anta Rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana 'abduka wa ana 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu a'uudzubika min syarri maa shana'tu abuu-u laka bini'matika'alayya wa abuu-u bidzambii faghfirlii fa innahuu laa yaghfirudzdzunuuba illa anta.



Ya Rabb..aku tahu Engkau tengah menunda terkabulnya doa untukku..aku tahu Engkau tengah mempersiapkan yang terbaikkk untukku..aku tahu Engkau telah membuat skenario hidup terindah untukku..tapi ya Allah akankah Kau tidak mau menyegerakan untukku...Ya Rabb segerakanlah Engkau kabulkan doaku...Engkau paling tahu apa yang mereka tidak tahu..engkau paling tahu apa yang ada jauh di lubuk hatiku..Ya Rabb dengarkanlah doaku..kabulkanlah permintaanku..



Duh Gusti..yang membolakbalikan hati ini..tetapkanlah aku untuk istiqomah di jalanMu...mensyukuri semua nikmat dan karunia dariMu dan sebaik-baik beribadah kepadaMu. Gusti..tetapkanlah aku untuk istiqomah di jalanMu...mensyukuri semua nikmat dan karunia dariMu dan sebaik-baik beribadah kepadaMu. Gusti..Gusti tetapkanlah aku untuk istiqomah di jalanMu...mensyukuri semua nikmat dan karunia dariMu dan sebaik-baik beribadah kepadaMu.

Amiin..


Zahra menyeka kembali airmatanya. Tampak segala asanya kembali bersinar. istighfar panjangnya telah mengguncang dunia. Istighhfar tulusnya membuka lapangan di hatinya. Kini Zahra merasa lega. Allah telah mendengar keluh kesahnya dan memlimpahkan rahmat yang paling sempurna ke dalam hati Zahra. hingga ia mencoba memotivasi diri sendiri. Terus berkarya, mengukir prestasi dan menebar manfaat untuk ummat." pesan Zahra kepada semua yang saat ini Allah belum mengabulkan permintaannya. karena Allah punya skenario terindah untuk hidup kita. Percayalah. Tetap semangat menjalani seni hidup.[]

Selasa, 01 Februari 2011

Antara Idealisme dengan Realitas

oleh Handayani

Menulis judul itu rasanya ingin tersenyum. Mau senyum getir boleh, kecut boleh..enak lagi klo senyum manis pke tulus jos gandhos. Manusia dengan sejuta bahkan lebih keinginan yang setidak-tidaknya mereka senang bila keinginannya itu tepenuhi. Misal pengin kerja enak, suasana kantor nyaman, gaji gedhe, pulang lebih awal bisa kumpul keluarga, silaturahim dg teman dan tetangga, ilmu dan bakat termanfaatkan. namun pada akhirnya ia hanya bisa gigit jari karena bisa jadi salah satu atau banyak syarat/keinginan kita tidak sesuai dengan kenyataan. bila kita tidak legowo ya pasti senyum kecut ato getir yang bisa dirasa. beda lagi klo kita menerimanya dengan ridho dengan semua ketentuan Allah. Iut sudah skenario terbaik dari Allah.

Tapi boleh ga ya? klo menelusuri kata hati mencari dan berusaha mewujudkan apa yang kita inginkan agar menjadi kenyataan? sah sah saja..ga ada yang salah..tapi yang harus di kilas balik adalah niat kita.

Jadi teringat ketika berkumpul bersama dalam majlis ilmu..kriteria apa saja yang kamu ajukan untuk mendapat seorang suami. senyumsenyum bareng dengan teman-teman yang saat itu masih lajang semua. "Boleh banyak kriteria, tapi siap-siap juga klo sekian banyak kriteria ada yang harus dihapus," pesan bu Nyai.

waduh..pada senyum getir kala itu..

waktu berlalu seiring perjalanan bumi pada rotasinya. ada beberapa teman yang sudah menikah dengan beberapa kriteria nya harus dihapus. ada beberapa teman pulang ke kampung halamannya katanya kalau pulang kampung halaman lebih cepat jodohnya..he2 aneh juga jawabannya begitu..

Tidak ingin membahas kriteria lebih lanjut..biarkan itu menjadi idealisme seseorang..syukur-syukur bisa menjadi sebuah realita yang ditunggu-tunggu pemilik idealisme. Klo pun toh tidak sesuai realita ya jagan kecewa..percaya skenario Allah itulah yang terbaik untuk kita.

Nasehat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

oleh : Handayani

Sahabat Rasul SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berkata, ”Kegelapan itu ada lima dan pelitanya pun ada lima. Jika tidak waspada, lima kegelapan itu akan menyesatkan dan memerosokkan kita ke dalam panasnya api neraka. Tetapi, barangsiapa teguh memegang lima pelita itu maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.”

Kegelapan pertama adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Rasulullah bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi).Untuk memeranginya, Abu Bakar memberikan pelita berupa takwa. Dengan takwa, manusia lebih terarah secara positif menuju jalan Allah, yakni jalan kebenaran.

Kedua, berbuat dosa. Kegelapan ini akan tercerahkan oleh taubat nashuha (tobat yang sungguh-sungguh). Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila ia berhenti dari berbuat dosa dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya.” (HR Ahmad). Inilah al-roon (penutup hati) sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muthaffifin (83) ayat 14.

Ketiga, kegelapan kubur akan benderang dengan adanya siraj (lampu penerang) berupa bacaan laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah. Sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulallah, apa wujud keikhlasannya?” Beliau menjawab, ”Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.”

Keempat, alam akhirat sangatlah gelap. Untuk meneranginya, manusia harus memperbanyak amal shaleh. QS Al-Bayyinah (98) ayat 7-8 menyebutkan, orang yang beramal shaleh adalah sebaik-baik makhluk, dan balasan bagi mereka adalah surga ‘Adn. Mereka kekal di dalamnya.

Kegelapan kelima adalah shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) dan yaqin adalah penerangnya. Yaitu, meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal yang gaib, termasuk kehidupan setelah mati (eskatologis). Dengan keyakinan itu, kita akan lebih aktif mempersiapkan bekal sebanyak mungkin menuju alam abadi (akhirat).

Terima Kasih Ibu

Oleh: Handayani


Sebut saja dia Zahra. Anak paling besar di rumah meski bukan anak pertama, karena kedua kakaknya telah mengikuti suaminya. Selama ini dia menjadi tulang punggung keluarganya. Bukan karena ayahnya telah meninggal atau sakit, tetapi karena Allah SWT telah mengalirkan rezkinya lewat anak perempuannya. Meski terkadang sesekali mendapat rezki lebih, ayah Zahra pun tetap berbagi dengan keluarganya. Entah untuk bayar listrik yang kadang sampai nunggak 2 bulan, atau nombokin uang belanja yang diberikan Zahra ke Bundanya. Setiap harinya Zahra yang mencukupi kehidupan keluarga baik urusan perut maupun pendidikan adik-adiknya. Terkadang juga membantu adik perempuannya yang telah menikah dan tinggal serumah dengan membeli susu anaknya, atau sekadar minyak telon dan minyak kayu putih untuk menghangatkan keponakannya. Sepertinya Zahra sudah ikhlas. Namun ikhlasnya Zahra tidak dibahas di sini. Itu urusan kanjeng Gusti dengan Zahra.

Suatu ketika Putri, adik Zahra paling kecil kelas 6 SD yang mau ulang tahun berceloteh.

“Mbak besok kalau aku ulang tahun aku minta uang ya..”, kata Putri.

“Berapa?” jawab Zahra.

“Lima puluh ribu aja. Aku mau njajakin temenku kok..”

“Insya Allah ya kalau mbak ada rezki tambahan lagi..”

“Insya Allah nya 100% ya..”

“Insya Allah”, jawab Zahra lagi.

“Halah minta sama mbak Zahra nek untuk yang kayak gini ki mesti ga dikasih. Mending mbak Mi. Kalau aku ulang tahun minta sepatu dibeliin. Lha kamu mbak..ga sayang sama aku..”

Zahra hanya tersenyum. Ibu yang di sebelah Zahra langsung memberi alasan membela Zahra.

“Tri.. Tri.. kamu koq ga bersyukur tho punya mbak Zahra. Setiap hari yang ngasih uang belanja ibu siapa? Buat makan kamu tuch sampai pipimu gembul.. yang nyanguni kamu itu siapa? Yang mbayar SPP mu itu siapa? Ya wajar nek uangnya mbakmu habis ga bisa ngasih uang buat njajakin temen-temenmu. Setiap hari tuch.. dihitung. Lha mbak Min cuman kalau kamu ulang tahun sama nek lebaran tok ngasihnya. Bersyukur kamu Tri besyukur.. nanti nek mbakmu dapat tambahan rezki kan kamu juga dikasih.”

“Ya.. ya” jawab Putri sambil mrengut.

Selepas itu Zahra menatap lekat-lekat adik bungsunya. Dalam hati Zahra berkata, Gusti.. Gusti.. paring ngono rezki ingkang halal, kathah lan barokah. Ikhlas itu seperti apa tho Gusti.

Selepas memandang lekat adiknya, Zahra menatap ibunya. Bu.. Bu engkau sepertinya tahu apa yang aku rasakan. Memandangmu sudah membuatku bersyukur telah engkau besarkan. Sudah berapa rupiah yang engkau keluarkan. Sudah berapa kasih yang telah engkau berikan. tapi kau tak minta dikembalikan. Lha aku, baru ngasih sak imprit saja sudah tak karuan rasanya. Bu..Bu.. maafkan aku yang belum bisa memberi terbaik untukmu. Hanya doa tulusku untukmu. Terima kasih ibu.

Zahra hanya bisa menelan ludah lalu tersenyum. Itu adalah salah satu cara menekan perasaannya. Lalu ia berdoa, ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO

“Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil.” Aamiin.

Senin, 08 November 2010

Menyikapi Musibah

1. Introspeksi, apakah musibah ini ujian (QS. 2:156)
o Peringatan (QS.21:41)
o Azab (QS. 32:21)
2. Jangan iri terhadap orang kafir yang tak pernah dapat musibah, karena itu adalah istidroj, kesannya seperti ni’mat, tapi sebenarnya adalah azab tertunda. (QS. 11:15-16)
3. Bersabarlah dan berdoa. (QS. 2:155-157)
4. Perbanyak istighfar karena bisa menolak bala. (QS. 8:33)
5. Ambil hikmahnya.(QS. 9:126)
6. Kuatkan taqwa.(QS.65:2-3)
7. Shodaqoh untuk menolak bala.
8. Jangan bangga diri, karena boleh jadi musibah itu rahmat dan selamat dari musibah itu adalah bala yang tertunda. (QS. 7:22-23)
9. Kuatkan keyakinan bahwa sesungguhnya alam semesta berada dalam genggaman Allah SWT. (QS. 57:22-23)
10. Menyadari bahwa musibah sering terjadi karena ulah manusia yang mengeksploitasi alam dengan rakus sehingga merusak ekosistem. (QS. 30:41)
11. Membangun kebersamaan dengan saling tolong menolong dengan saudara yang terkena musibah.

Pesan untuk Kader Dakwah

Teruslah bergerak
Hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu
Teruslah berlari
Hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu
Teruslah berjalan
Hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu

Teruslah bertahan
Hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu
Tetaplah berjaga
Hingga KELESUAN itu LESU menemanimu
(Ust. Rahmat Abdullah)

Selasa, 03 Agustus 2010

Selembar Kertas Bermakna Indah

Aneh bin ajaib, ada acara temu pembaca bulletin. Buletin tersebut adalah Adz Dzikro ( bulletin Jumat) di Kota Semarang dengan pembacanya pada hari Minggu 25 Juli 2010 di Masjid Kampus USM. Responnya luar biasa. Sudah hampir tiga tahun bulletin Adz dzikro menjadi pelopor jurnalisme Qur'ani yang tercetak fullcolour di Kota Semarang. Edisi 1-110 tercetak fullcolour hal depan saja. Edisi 111- 158 tercetak fullcolour bolak balik. Oplah : 10.000/pekan 40.000-50.000/bulan Islam itu indah. Meski tidak semuanya mampu mewujudkan keindahan Islam itu sendiri. Ada salah satu media dakwah yang menyajikan artikel, kiat, hidayah, doa dan konsultasi keislaman yang mampu menyajikan keindahan Islam itu dengan selembar kertas ukuran folio fullcolour bolak balik. Buletin jum’at adzdzikro yang terbit tiap pekannya.

Tampilannya yang berbeda dengan buletin lainnya agar pembaca tertarik dengan Islam sejak pandangan pertama. Meski tidak menafikan kehadiran bulletin jum’at yang lain seperti al wustho, sakinah, al islam dan lainnya yang turut memberi warna dalam dakwah Islam di Kota Semarang.

Kehadiran bulletin Adz dzikro tiga tahun lebih mendapat apreasiasi positif dari pembaca. Ada yang berkonsultasi dan ada yang mengirim materi. Untuk merespon penerimaan positif pembaca Ahad (25/7) jajaran redaksi bulletin jum’at adz Dzikro gelar Temu Pembaca Adz Dzikro.

Kegiatan ini mampu meneguhkan pembaca Adz Dzikro, khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari.

“Dengan menjadi sahabat al qur’an, misi Buletin Jum’at Adz Dzikro untuk mengembalikan umat Islam agar selalu berpijak dan berpedoman pada Al Qur’an dalam menghadapi problematika kehidupan sehari-hari semakin kukuh. Tidak luntur tergerus perkembangan teknologi,” tutur Ustadz Ari Purbono selaku penanggung jawab penerbitan bulletin ini.
www.adzdzikro.com

Rabu, 14 Oktober 2009

Kaleh Sinten?

Kaleh Sinten?

“Pye ya bu..anake dhewe ki wis pek 28 taun. Kok durung ana sing nembung-nembung. Jan jane ki guru ngajine ki niat nggoleke rak tho bu..?”
“Sing sabar dhisik tho pak. Wong anake dhewe ki sih digoleke sing apik, sing pas, sing podho utowo sekufu sak kabehane rak trimong agamane thok pak. Mengko nek wis wayahe yo mesti rabi tho pak..”
“Lha nanging kapan bu? Lha po rak mesakne bocahe tho bu. Tambah kuru kae awake. Opo mikirke bojo?”
“Yo nek mikir mungkin mikir pak. Tapi wong anake dhewe ki ora isoh antheng, polah wae. Nggarap skripsi yo rak rampung-rampung. Wis didongane wae gen lek ndang payu rabi. Enthuk bojo sing sholeh, pinter, sogeh, ngerteni anake dhewe yo pak yo..”
“Iyo yo bu.. skripsine yo gen lek ndang bar”
“Amiin..”

Sruput…
"Wah kopine enak tenan bu.”
“Yo wis mesti tho pak. Sing nggawe sopo sik..”
“Yo mesti tho bu..wong dhewe ki wis urip bareng 38 taun. Mosok rung reti nggawe kopi sing enak. Kebangeten nek koyo nggono kuwi..”
“Eh bu..jan-jane kriteria bojo sing dikarepke anake dhewe ki koyo opo tho bu? Kok aku rung mudheng sing dikarepke?”
“Wong anake dhewe ki ora kakehan kriteria kok pak. Sing penting agamane apik. Nek crito ki njaluke sing iso nambah semangate ngibadah marang gusti Allah kok pak. Lha nek masalah pinter yo kudu bojone mengko sing pinter. Wong anake dhewe ki dhuweni cita-cita dhuwur butuh konco sing iso dijak mikir maju.”
“Lha anake dhewe ki sing sak benere pengin dadi opo tho bu?”
“Macem-macem pak. Anake dhewe ki yo pengin dadi hafidhoh wong sing apal qur’an. Rak ketang anake dhewe ki lali nan. Angel kon apalan. Tapi nek wis apalan yo tenanan. Dek mben kae pernah crita nek awake ki pengin dadi penulis. Makane dheknen geleme kerjo sing ono hubungane karo nulis nulis. Tapi dheknen ki yo pengin nduwe usaha panganan. Lha wong anake dhewe ki pinter nggawe-nggawe panganan tho pak. Tapi yo kuwi nek kon dodol rak pathek pinter. Isone mung nggaweni.”
“o..oo.. akeh temen tho bu karepane..”
“Yo ngono kuwi anake dhewe pak”

Sruput…
“Bu piye yo bu nek tak golekno bojo wae. Rak usah ngenteni guru ngajine..”
“Hus jo sembrono pak..kok yo rung ngerti anake dhewe. Wong bocahe ki gelemi digolekne guru ngajine. Lebih aman dan terpercaya jare. Dhek kae yow is tak tawani lha bocahe wegah kon piye maneh.”
“Oo..yo wis. Aku kan mung golek solusi. Tapi nek solusi sing paling apik ning guru ngajine yo aku manut wae bu. Mugo-mugo entuk bojo sing dikarepke yo bu yo.”
“Amiin..”

Greek..
“Sopo kuwi?”
“Kulo bu..?”
“Lha jebule kowe krungu tho nduk..”
“Kapan olehmu rabi?”
“Wong masalahe niku kirang kaleh kok bu pak..”
“Opo masalahe?”
“Kaleh sinten.”
“Weleh..weleh..weleh…dijak serius kok malah guyon.”
“Lha pripun memang dereng rejekine. Mangkeh nek pun rejekine nggih mesti rabi tho bu pak..”
“Yo wis tak dongane wae nduk..”

By. Zahro ^-^

Selasa, 18 Agustus 2009

Mensyi’arkan Ramadhan

Wahai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (QS Al Baqoroh : 183)
Agar seluruh anggota keluarga kita (suami, istri, anak, menantu, cucu, pembantu, dll) ikut berpuasa dan mensyiarkan Ramadhan, sehingga suasana rumah benar-benar “suasana Ramadhan, beberapa kiat berikut dapat dicoba:
1. Fahamkan akan indahnya bulan suci Ramadhan kepada seluruh anggota keluarga, bahwa ia adalah bulan mulia, bulan suci, yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, bulan dilipatgandakannya nilai amal ibadah, dll.
2. Fahamkan kepada seluruh keluarga tentang bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam menyambut dan mengisi Ramadhan
3. Bagi yang sangat sibuk,usahakan untuk dapat makan sahur dan berbuka bersama keluarga, sehingga tercipta kebersamaan dalam beribadah kepada Allah swt.
4. Sekali waktu (atau beberapa kali waktu), untuk mengadakan shalat tarawih bersama keluarga (karena tarawih tidak harus di masjid)
5. Biasakan untuk memberikan pujian/penghargaan bahkan hadiah kepada anak khususnya yang berhasil menjalankan puasa dengan baik
6. Tradisikan membaca Al Qur’an (minimal) selama bulan Ramadhan, untuk menghidupkan suasana rumah.

Kamis, 13 Agustus 2009

Kiat Menyambut Ramadhan

“Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, yang menjadi petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, dan menjadi pembeda (antara yang haq dan yang batil). Barang siapa di antara kamu menyaksikan (menemui) bulan ramadhan, maka berpuasalah …”
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba, beberapa persiapan yang sebaiknya kita lakukan:
1. Persiapan ruhiyah
Setiap muslim idealnya pasti akan bahagia dengan hadirnya Ramadhan, karena baginya Ramadhan adalah bulan yang sangat-sangat dinantikannya. Di bulan itu setiap muslim memiliki kesempatan beramal dan beribadah yang sangat luar biasa., pagi, siang, sore, malam bahkan di waktu dini hari sekalipun. Di bulan itu nilai amal ibadah seorang hamba dilipatgandakan oleh Allah swt. Kesempatan untuk meraih rahmat dan maghfiroh Allah swt. Oleh karena itu persiapkan ruhiyah kita untuk menyambut datangnya bulan suci ini.
2. Persiapan Jasadiyah
Menjaga kondisi fisik agar tetap sehat sebaiknya kita lakukan untuk bersiap-siap menyambut datangnya Ramadhan. Kita mesti berazam (niat kuat) untuk dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan sesempurna-sempurna mungkin. Persiapkan badan kita, rumah kita, lingkungan kita untuk menyambut datangnya Ramadhan. Ciptakan suasana “baru” di rumah kita karena akan menyambut tamu agung, tamu yang dinanti-nantikan datangnya, bulan Ramadhan
3. Persiapan fikriyah
Mempelajari seluk beluk Ramadhan (syarat sah, wajib, rukun puasa, tarawih, dll) menjadi sangat penting dilakukan sebelum datangnya Ramadhan, sehingga memasuki Ramadhan dengan penuh kemantapan keyakinan dan pemahaman.

Amal Utama Di Bulan Ramadhan

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183]
Ramadhan punya makna tersendiri di hati umat Islam. Bulan Ramadhan adalah bulan rihlah ruhaniyah (wisata rohani). Umat Islam melepas belenggu materialisme dunia dengan menghidupkan dunia ruhiyah. Sebulan penuh umat Islam menjalani proses tadzkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sebulan penuh umat Islam melakukan riyadhatur ruhiyah (olah rohani).
Amal yang utama di bulan Ramadhan tentu saja berpuasa. Hal ini diperintahkan Allah swt. dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 183-187. Karena itu, agar puasa kita tidak sia-sia, perdalamlah wawasan kita tentang puasa yang benar dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. Sebab, puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Tapi, ada rambu-rambu yang harus ditaati. Kata Rasulullah saw., “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
Jangan pernah tidak berpuasa sehari pun tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Meninggalkan puasa tanpa uzur adalah dosa besar dan tidak bisa ditebus meskipun orang itu berpuasa sepanjang masa. “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshah atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. At-Turmudzi)
Jauhi hal-hal yang dapat mengurangi dan menggugurkan nilai puasa Anda. Inti puasa adalah melatih kita menahan diri dari hal-hal yang tidak benar. Bila hal-hal itu tidak bisa ditinggalkan, maka nilai puasa kita akan berkurang kadarnya. Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah (hakikat) puasa itu sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan perbuatan sia-sia dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah saw. juga berkata, “Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktikkanya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semua itu tidak akan bisa kita lakukan kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam melaksankannya. Dengan begitu, puasa yang kita lakukan menghasilkan ganjaran dari Allah berupa ampunNya. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampuni dosa-dosa yang pernah dilakukan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)
Salah satu bentuk kesungguhan dalam berpuasa adalah, melakukan makan sahur sebelum tiba waktu subuh. Rasulullah saw. menerangkan, “Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan Anda tinggalkan, meskipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur.”
Selain sahur, menyegerakan berbuka ketika magrib tiba, juga bentuk kesungguhan kita dalam berpuasa. “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa,” begitu kata Rasulullah saw. Rasulullah saw. memberi contoh bersegera berbuka puasa walaupun hanya dengan ruthab (kurma mengkal), tamar (kurma), atau seteguk air. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Selama berpuasa, jangan lupa berdoa. Doa yang banyak. Sebab, doa orang yang berpuasa mustajab. Ini kata Rasulullah saw., “Ada tiga kelompok manusia yang doanya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah doa orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka.” (HR. Ahmad dan Turmudzi). []edit-dkwtn

Kamis, 06 Agustus 2009

Sepuluh Langkah menyambut Ramadhan Oleh: Mochamad Bugi

1. Berdoalah agar Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir.
Para salafush-shalih selalu memohon kepada Allah SWT agar diberikan karunia bulan Ramadhan; dan berdoa agar Allah SWT menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah Ta’ala, ”Allahu akbar, allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.
2. Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadhan yang kembali diberikan kepada kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.
3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadhan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
4. Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]
6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadhan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
7. Sambut Ramadhan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Ramadhan adalah bulan taubat. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]
8. Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadhan.
9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:
• buat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.
• membagikan buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.
10. Sambutlah Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. []edit-dkwtn

Selasa, 21 Juli 2009

Becermin Kepada Khalid bin Walid

Oleh: Muhammad Nuh

Melakoni jalan hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak di pegunungan. Kadang menurun, suatu saat menanjak melampaui pucuk pohon tertinggi. Saat itulah, semua terlihat kecil. Bahkan, puncak gunung pun ada di telapak kaki. Berhati-hatilah, karena di balik gunung ada jurang.
Kurir Khalifah Umar Al-Khaththab agak heran dengan reaksi Khalid bin Walid. Selepas membaca surat khusus Khalifah, panglima perang Islam yang kesohor itu bicara pelan kepada sang kurir. “Jangan sampaikan pada siapa pun isi surat ini.” Dan kurir itu pun setuju.
Itulah pesan Khalid bin Walid sesaat setelah membaca surat penghentian jabatan panglima perang dirinya. Sama sekali, hal itu bukan lantaran ia menolak titah khalifah yang baru dilantik. Bukan pula karena khawatir kalau popularitasnya akan merosot. Ia cuma ingin menjaga agar semangat pasukan tetap prima. Dan kemenangan Perang Yarmuk yang sedang bergolak pun bisa diraih.
Popularitas Khalid dalam kemiliteran Islam saat itu, memang nyaris tak tertandingi. Ia memang sempurna di bidangnya: ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan kharismatik di tengah prajuritnya. Benar-benar idola yang pas buat mujahid Islam saat itu.
Keputusan Umar mengganti Khalid justru di saat puncak ketenaran bukan sebagai jegalan. Justru, Umar ingin menyelamatkan Khalid dari fanatisme yang berlebihan. Beliau pun khawatir kalau pasukan Islam mengalami pergeseran motivasi.
Menariknya, semua itu diterima Khalid dengan lapang dada. Dalam hitungan detik, ia bisa memahami maksud surat Umar itu. Ia tuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan ke penggantinya: Abu Ubaidah.
Itulah penggalan kisah seorang Khalid bin Walid. Pelajaran berharga buat mereka yang mengalami fitnah popularitas. Sekecil apa pun ketenaran, kalau tidak dibangun dengan pondasi yang kokoh, akan menjadi bencana besar. Setidaknya, buat kebaikan diri sang tokoh.
Kalau merujuk pada sosok Khalid bin Walid, ada beberapa bekal yang bisa diambil pelajaran. Pertama, ketokohan Khalid asli datang dari dalam. Bukan sekadar rekayasa media, bukan juga klaim sepihak. Itulah kelebihan khusus Khalid.
Kedua, Khalid tidak terobsesi dengan ketokohannya. Ia tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Itu dianggapnya sebagai bagian dari buah perjuangan. Hal itulah yang pernah diungkapkan Khalid mengomentari pergantiannya, “Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!” Itulah ikhlas yang ingin dipegang seorang sahabat Rasul seperti Khalid bin Walid.
Khalid bin Walid pun akhirnya dipanggil Allah swt. Umar bin Khaththab menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid. Tapi, ia sedih karena tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya ‘Si Pedang Allah’ menempati posisi khusus di sisi Allah swt.[]edit-dakwatuna
*www.adzdzikro.com